Post Icon

Biografi Dani Pedrosa



Daniel "Dani" Pedrosa Ramal atau Dani Pedrosa lahir pada tanggal 29 September 1985 di Sabadell, Spanyol. Pria yang berpostur tubuh 158 cm dan berat 51 kilogram ini adalah pembalap utama pabrikan Honda yang bergabung bersama tim Repsol Honda HRC. Walau bertubuh relatif kecil untuk ukuran orang Eropa, Pedrosa mempunyai prestasi yang luar biasa di ajang balap motor dunia. Karirnya di dunia balap motor dimulai ketika ia baru berusia 12 tahun dengan menjadi juara 3 pada Spanish Pocket Bike Championship. Setahun kemudian, dengan semakin matangnya keterampilan membalapnya, ia berhasil menjuarai Spanish Pocket Bike Championships.

Setelah menjadi juara Spanish Pocket Bike, tahun 1999 Pedrosa mulai menapaki kejuaraan balap yang lebih tinggi lagi, yaitu Movistar Activa Joven Honda Cup. Pada tahun itu ia menempati posisi ke-8 dengan menggunakan motor Honda RS 125. Tahun berikutnya (2000), ia pindah lagi ke kejuaraan Spanish Championship 125cc dan berhasil meraih posisi ke-4 dengan menggunakan motor Honda RS 125.

Setelah menjadi juara kelas 125cc di seantero Spanyol, pada tahun 2001 Pedrosa mulai menapaki kejuaraan balap motor dunia, yaitu MotoGp. Masih dengan menggunakan motor Honda RS 125, pada tahun itu dia hanya berhasil menduduki peringkat ke-8 pada klasemen akhir kejuaraan. Setahun berikutnya, masih di kelas 125cc bersama tim Telefonica Movistar Honda JR, Pedrosa dapat memperbaiki peringkatnya menjadi urutan ke-3 pada akhir musim perlombaan tahun 2002. Baru pada musim balap tahun 2003, masih bersama tim yang sama, Pedrosa berhasil menyodok ke peringkat pertama dengan meraih total poin 223.


Sukses menjadi juara dunia di kelas 125cc, merupakan modal bagi Pedrosa untuk menjejakkan langkahnya ke kelas yang lebih tinggi, yaitu kelas 250cc. Pada tahun
pertama debutnya di kelas 250 cc, bersama tim Telefonica Movistar Honda 250, ia langsung menjadi juara dunia Grand Prix 250cc. Satu tahun kemudian (2005), ia kembali mendominasi balapan dan mempertahankan gelar juara dunia GP 250cc.

Pada musim balap tahun 2006, Pedrosa mulai tampil di kelas utama (MotoGp). Masih menggunakan motor Honda, ia bergabung bersama tim Repsol Honda HRC. Tim ini adalah tim besar yang telah membawa Michael Doohan merebut gelar juara dunia 5 kali berturut-turut (1994, 1995, 1996, 1997, 1998), Alex Criville menjadi juara dunia tahun 1999, dan Valentino Rossi menjadi juara dunia tahun 2002 dan 2003.

Tahun pertama tampil di kelas MotoGp ini prestasi Pedrosa belumlah seberapa. Selain harus beradaptasi dengan kendaraan barunya, ia juga mendapat saingan ketat dari para pembalap senior yang lebih dulu malang melintang di balapan MotoGp. Meskipun demikian, ia sempat menjadi juara ke-3 pada musim balap tahun itu (2006). Sebagai catatan, di tahun 2006 ini yang menjadi juara dunianya adalah rekan satu tim Pedrosa, yaitu Nicky Hayden.


Pada musim balap tahun 2007, seiring dengan adanya perubahan regulasi dari 1000cc menjadi 800cc, Pedrosa yang berpostur kecil ini ditunjuk sebagai pembalap utama pabrikan Honda. Hal ini sempat membuat beberapa pembalap Honda, terutama juara bertahan waktu itu Nicky Hayden, menganggap bahwa Honda sengaja menciptakan tunggangan yang khusus untuk Pedrosa. Namun, lepas dari anggapan miring tersebut, Pedrosa mampu menunjukkan prestasinya dengan menjadi runner up pada musim balap tahun 2007, di bawah Casey Stoner.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Cerpen Sebuah Harapan



Barangkali pagi adalah waktu yang akan selalu disesali oleh pak Dirman. Betapa tidak, kehadiran matahari yang menyilaukan mata lewat jendela sempit di kamarnya itu kemudian memaksanya terbangun dari mimpi-mimpi malam untuk menyaksikan kenyataan yang tak pernah dia harapkan sebelumnya. Lagi-lagi tubuh ringkih yang hampir separuh abad tuanya itu harus mempersiapkan segalanya dengan segera. Disulutnya kompor minyak yang sudah penuh karat untuk menanak nasi. Lalu Pak Dirman bergegas menimba air untuk mandi. Begitulah, kemudian anak semata wayangnya yang baru duduk di bangku SD kelas tiga itu dimandikan, meski sudah besar. Setelah beres, baru Pak Dirman sarapan pagi bersama istrinya sekaligus mendulang Dodi anak semata wayangnya.
Pak Dirman yang sudah sedemikian tua mengayuh becak yang mungkin sama-sama tuanya menuju pasar, tempat yang katanya penuh rejeki itu. Tak jarang Pak Dirman lupa mandi pagi dengan alasan tak ingin kehabisan rejeki, maklum harus berebut dengan belasan tukang becak yang memiliki tujuan sama mengais rejeki. Itu pun masih harus bersaing dengan angkot-angkot berbau amis di sekitar pasar.
“Pak Dirman…” sapa seorang wanita paruh baya dengan sedikit berteriak. Pak Dirman mencoba mencari sumber suara yang cukup membuatnya terkaget saat matahari semakin menampakkan warna silaunya.
“Eh, Mak Ijum” Pak Dirman tersenyum senang. Hatinya teramat bersyukur karena wanita yang biasa menaiki becaknya itu belum pulang dari pasar. Seperti biasa, dua buah keranjang yang dibawanya selalu penuh dengan sayur mayur dan lauk pauk. Maklum punya warteg.
“Berarti aku tepat waktu” pikirnya. Segera becak tua itu diturunkan supaya memudahkan penumpang saat menaikinya. Buru-buru Mak Ijum mengulurkan tangannya tanda menolak tawaran Pak Dirman. Sontak Pak Dirman terkejut, dahinya yang keriput mengernyit hingga semakin menampakkan lipatan-lipatannya.
“Kenapa, Mak?” suara Pak Dirman hampir tidak kedengaran, saking lirihnya.
“Saya mau naik angkot sajalah, Pak” Mak Ijum nyengir. Tangannya melambai ke arah angkot bobrok yang tak jauh di hadapannya. Segera Mak Ijum menaiki angkot dengan tergesa. Dunia terasa gelap dalam pandangan Pak Dirman. Harapannya musnah. Mak Ijum sudah tidak membutuhkannya lagi, padahal selama ini dialah satu-satunya penumpang setia yang mampu memberikannya sesuap nasi sekadar untuk sarapan sekeluarga, meski hanya berlauk garam. Sial, angkot itu merebut kehidupannya.
Pak Dirman menelan air liurnya yang kering. Disekanya butir-butir keringat yang mengalir deras di lehernya. Kecewa berat, namun tak bisa apa-apa. Pikirannya pun melayang kemana-mana. Pertama, keluarga. Istri yang telah dinikahinya lima belas tahun lalu itu kini tak bisa melayaninya lagi. Ia lumpuh karena stroke. Dulu Minah, istrinya itu bisa membantu penghasilan suaminya dengan berjualan sayur segar mengelilingi komplek perumahan. Lumayan, setidaknya bisa untuk makan dengan tempe goreng atau ikan asin kadang-kadang. Tapi sekarang, bisa makan dengan garam pun Pak Dirman merasa sangat bersyukur. Lebih bersyukur lagi karena Dodi masih bisa sekolah, ada bantuan dari pihak sekolah katanya. Dengan demikian, urusan sekolah tidak jadi masalah lagi baginya. Pak Dirman hanya berharap keluarga yang dicintainya baik-baik saja.
“Jangan Kau coba kami dengan cobaan yang lebih berat, Tuhan” gumam Pak Dirman dalam doa-doanya yang panjang, penuh uaraian air mata, luka dan lara.
“Orang miskin sudah tidak berhak sakit, Tuhan. Negara ini kejam” adunya lagi.
Pak Dirman terus memikirkan keadaan keluarganya. Kini bayangan rumah kecil sederhana yang dibeli dengan uang hasil menjual tanah di desa nampak jelas dalam benaknya. Rumah itu sudah reot, perlu sekali dibenahi. Tapi, bagaimana mungkin memikirkan rumah ya kalau mau makan saja masih sebegitu susah? Pak Dirman menyeka keringatnya sekali lagi. Muka tuanya kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya.
Dipandanginya pasar yang mulai sepi. Hari semakin siang, terik terasa membakar kulit hitam Pak Dirman. Ternyata memang tak ada penumpang, kecuali satu. Seorang nenek tua yang nampak kesusahan membawa barang dagangannya. Nenek tua itu seperti kebingungan, sementara tak ada orang membantunya pulang. Hati kecil Pak Dirman tergugah untuk membantunya.
“Tak apalah jika belum dapat rejeki” bisik hati kecil Pak Dirman, bijak. Becak tuanya ia dorong perlahan mendekati nenek tua yang tengah duduk sambil memandangi jalan.
“Becak Uwa” tawar Pak Dirman tersenyum. Senyum yang ia paksa meski dalam hatinya menangis menjeritkan luka-luka yang menganga. Nenek itu hanya memandanginya lekat-lekat.
“Sampean mau nyulik saya yang sudah tua? Beraninya ya. Belum tau kalau suami saya mantan preman pasar!” nenek tua itu membentak. Suaranya terdengar parau. Gigi-giginya sudah banyak yang tanggal. Segera Pak Dirman beristighfar. Tak disangkanya niat tulus dari lubuk hatinya yang terdalam kemudian tak dimengerti oleh orang lain, malah disangkanya ia akan berbuat aniaya terhadap nenek tua itu.
“Saya ingin bantu nenek” Pak Dirman berusaha sabar, meski setengah terkejut.
“Alah, saya sudah nggak percaya lagi sama orang lain. Semuanya Munafik! Kau tahu, kota ini penuh kemunafikan.” tandas sang nenek berapi-api. Raut wajahnya menampakkan kemarahan yang sangat.
“Sudah berkali-kali aku ditipu. Biar tua-tua begini aku punya harga diri.” tambah nenek tua yang seolah kesetanan itu.
“Eh Pak, pergi saja kau cari mangsa yang lain”
Pak Dirman hanya termangu. Kata-kata yang terlontar dari mulut nenek tua itu serasa masuk menghujam jantungnya. Terbayang, istrinya terbaring lemah di rumah. Di sebuah dipan reot dekat jendela sempit yang ada di bagian samping rumah. Hidup sudah tak ada artinya lagi mungkin. Setiap hari hanya memandang keluar, mengamati hiruk pikuk kota. Melihat wanita-wanita seusianya asik bercengkerama di teras-teras rumah sambil sesekali tertawa. Melihat matahri menyapa seolah memberi semangat untuk bangkit, daripada terus-terusan tidur semakin menambah penyakit. Tapi mau bagaimana jika semua seolah mustahil untuk dilakukan? Minah hanya menangis bahkan nyaris tak bisa tersenyum ketika suaminya, Pak Dirman yang begitu sabarnya mencoba menghibur ia dengan sisa-sisa kantuk dan lelah sehabis pulang bekerja. Ia tak mampu lagi mengucapkan sepatah kata pun. Stroke, stroke. Andai saja ia dapat berunjuk rasa kepada tuhan. Sayang, tak semua orang akan setuju dengan idenya. Di mana sih tuhan yang katanya bijak itu? Mana tuhan yang kata para pembesar agama itu Maha Pengasih, Maha Pemberi, Maha Pengabul atas doa hambaNya yang meminta? Pertanyaan-pertanyaan itu semakin menyesakkan rongga dadanya. Doa-doa yang teruntai panjang dari hati kecil Minah dan mungkin tak cukup jika dicatat dalam beribu-ribu lembar kertas dan buku seolah kabur tersapu angin sepi. Not responding. Once again, where’s the God? (sekalian wae dicampur bhs arabe mb) he
Pak Dirman baru ingat, istrinya pandai merajut. Mengapa tak ia belikan saja jarum dan benang. Dulu waktu masih di desa, Minah pernah belajar pada emaknya. Pak dirman merogoh saku celana kolornya, namun kosong. Lehernya serasa tercekik oleh tangan-tangan berkuku panjang.
“Eh, kenapa Kowe masih di sini?” tiba-tiba suara parau itu kembali mengejutkan Pak Dirman. Rupanya ia telah terdiam begitu lama di hadapan nenek tua yang tadinya ingin ia bantu itu.
‘Iii…ia Uwa” Pak Dirman akhirnya pergi sambil menggenjot pedal becaknya. Batinnya bergejolak. “Negeri macam apa ini?”
Pertanyaan-pertanyaan yang hampir sama dengan pertanyaan istrinya tiba-tiba muncul memenuhi ruang kepala. Di manakah Tuhan ketika hambaNya kesusahan? Makan susah, Minum susah, tersenyum dan tertawa pun lebih susah. Yaa, sedikit membenarkan lagu yang pernah didendangkan Sherina, beberapa tahun yang lalu saat ia masih menikmati pekerjaannya sebagai tukang becak, namun sedikit berpenghasilan. Barangkali bisa untuk membeli tempe goreng di warung Mak Ijum, sambil menonton tivi 14 inchi.
Pak Dirman mengontel pedalnya dengan lebih cepat, berharap ada peluang mendapatkan rejeki hari ini. Anak istri di rumah tentu belum makan siang. Seperti dirinya yang tengah mendengarkan cacing-cacing di perutnya berteriak minta makan. Perih memang.
Otak di kepalanya ia paksa berpikir dan terus berpikir. Kini pikirannya tiba pada masalah janji. Oh, janji mana memang? Pak Dirman ingat betul, beberapa tahun lalu ketika istrinya masih sehat, ada calon bupati yang mampir ke tempatnya. Katanya mau melihat-lihat rumah di komplek tempat tinggalnya itu, lalu menyeleksi rumah-rumah terpilih untuk diberi bantuan material. Tentu jika calon bupati itu nantinya menang dalam pemilihan. Rupanya Pak Dirman termasuk satu dari sekian warga yang terpilih. Ia akan diberi bantuan, dengan cara memilih calon bupati tersebut. Ya begitulah kiranya akal-akalan dari orang yang gila akan jabatan. Gila memang, karena segala cara akan dilakukan. Tapi untuk orang-orang seperti Pak Dirman tentu saja hal yang seperti itu tak perlu dipermasalahkan. Ia bahkan manut saja, yang penting nyoblos nomor yang dimaksud saat pemilihan.
Kini Pak Dirman baru sadar, bahkan di akhir masa jabatan calon bupati yang ternyata licik itu, rumah reotnya belum sekalipun tersentuh oleh bantuan material seperti yang dijanjikan. Mendatangi kompleknya saja tidak pernah. Ah, busuk memang. Mau protes? Ah, ribet. Harus menghadapi orang-orang berbaju rapih di kabupaten. Sementara, orang yang datang sama sekali tidak wangi. Bagaimana jika nanti mereka menutup mata? Kalau menutup hidung, ia kira wajar-wajar saja.
Keringat di leher Pak Dirman mengalir semakin deras. Namun Pak Dirman tak mau mempedulikannya lagi. Biarlah keringat itu menjadi saksi akan perjuangannya.
Pak Dirman mengayuh kembali becaknya menuju pasar. Hidup baginya tak boleh putus asa. Ia tak boleh mempertanyakan keberadaan Tuhan. Yang jelas, Tuhan akan selalu ada dalam hatinya. Jika saja ia mendekati Tuhan sejengkal, Tuhan akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati Tuhan sehasta, Tuhan akan mendekatinya sedepa. Jika ia mendekati Tuhan dengan berjalan, Tuhan akan mendekatinya dengan berlari. Ia ingat betul petuah Haji Somad yang kemarin menaiki becaknya saat ia hampir putus asa. Saat ia ingin menceburkan dirinya dalam sungai di tengah kota. Karena tiba-tiba saja sosok Haji Somad muncul secara tiba-tiba dan menggenggam tangannya. Lalu Haji Somad menaiki becak dan memberikan sejumlah uang yang membuatnya kaget. Barangkali Uang Kaget memang, seperti program televisi yang pernah ia lihat di tivi 14 inchi milik Mak Ijum dulu, sambil menikmati tempe goreng dan teh tubruk yang hangat.
Uang kaget itu membuat istrinya kaget, hingga saat ini Minah mulai menikmati hidupnya dengan penuh senyuman. Mungkin kedua kakinya tak dapat digerakkan, tapi mulutnya kini dapat melafalkan huruf-huruf dalam deretan abjad dengan lancar dan mampu membentuk kata kemudian menjadi kalimat. Ia menjadi Minah yang bisa mendendangkan shalawat ketika Dodi tertidur dalam pangkuannya. Ia dapat merajut pernak-pernik yang hasilnya cukup untuk memoles wajahnya dengan bedak, supaya terlihat agak cantik. Stroke yang semakin mengurangi usianya itu ternyata sedikit memudarkan kecantikam Minah. Kalau dibilang mukjizat mungkin terlalu berlebihan karena Pak Dirman sekeluarga bukanlah nabi atau calon nabi. Ulama pun bukan, tapi mereka yakin akan kasih sayang Tuhan. Alloh telah memberikannya kemudahan. Pak Dirman sekeluarga sadar, telah lama mereka meninggalkan shalat. Mereka hanya berdoa dan terus berdoa menanti keajaiban tiba. Namun ternyata semua itu salah.
“Maafkan Kami, Tuhan” Pak Dirman meneteskan air mata.
Kini Pak dirman telah kembali siap untuk bersaing dengan angkot-angkot bobrok yang berbau amis di sekitar pasar. Tak apalah ia kehilangan mak Ijum dari daftar penumpangnya. Bukan berarti itu kiamat kan?
Tukang becak nampak semakin sepi dari pasaran. Banyak yang tidak betah karena sepi akan penumpang. Tapi justru itu kesempatan bagi Pak Dirman, karena kini nenek-nenek tua pun lebih suka memilih becak Pak Dirman. Kok bisa? Ya bisa.
Oh iya,
Kalau saja, beberapa waktu lalu ia tak membawa wanita malang yang ternyata istri Haji Somad itu ke rumah sakit saat kecelakaan. Mungkin bukan uang kaget yang ia dapatkan. Untung saja Haji Somad segera datang saat ia berniat mengakhiri hidupnya. “Alhamdulillah”

Ratusan orang nampak berunjuk rasa di depan kantor kabupaten. Ramai.
“Turunkan Joko! Turunkan Joko!”
“Pelaku Korupsi harus mati!”
“Turun! Turun! Turun!”
Jalur utama jalan diblockade oleh massa yang mengamuk karena marah.
Pak Dirman mengelus dada. “Astaghfirullah” bisiknya dalam hati.
Bupati yang dulu dipilihnya itu ternyata korupsi.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

SEJARAH SINGKAT INDONESIA

Secara geologi, wilayah Indonesia modern (untuk kemudahan, selanjutnya disebut Nusantara) merupakan pertemuan antara tiga lempeng benua utama: Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik (lihat artikel Geologi Indonesia). Kepulauan Indonesia seperti yang ada saat ini terbentuk pada saat melelehnya es setelah berakhirnya Zaman Es, sekitar 10.000 tahun yang lalu.
Pada masa Pleistosen, ketika masih terhubung dengan Asia Daratan, masuklah pemukim pertama. Bukti pertama yang menunjukkan penghuni awal adalah fosil-fosil Homo erectus manusia Jawa dari masa 2 juta hingga 500.000 tahun lalu. Penemuan sisa-sisa "manusia Flores" (Homo floresiensis)[1] di Liang Bua, Flores, membuka kemungkinan masih bertahannya H. erectus hingga masa Zaman Es terakhir.[2]
Homo sapiens pertama diperkirakan masuk ke Nusantara sejak 100.000 tahun yang lalu melewati jalur pantai Asia dari Asia Barat, dan pada sekitar 60 000 sampai 70 000 tahun yang lalu telah mencapai Pulau Papua dan Australia.[3] Mereka, yang berfenotipe kulit gelap dan rambut ikal rapat, menjadi nenek moyang penduduk asli Melanesia (termasuk Papua) sekarang dan membawa kultur kapak lonjong (Paleolitikum). Gelombang pendatang berbahasa Austronesia dengan kultur Neolitikum datang secara bergelombang sejak 3000 SM dari Cina Selatan melalui Formosa dan Filipina membawa kultur beliung persegi (kebudayaan Dongson). Proses migrasi ini merupakan bagian dari pendudukan Pasifik. Kedatangan gelombang penduduk berciri Mongoloid ini cenderung ke arah barat, mendesak penduduk awal ke arah timur atau berkawin campur dengan penduduk setempat dan menjadi ciri fisik penduduk Maluku serta Nusa Tenggara. Pendatang ini membawa serta teknik-teknik pertanian, termasuk bercocok tanam padi di sawah (bukti paling lambat sejak abad ke-8 SM), beternak kerbau, pengolahan perunggu dan besi, teknik tenun ikat, praktik-praktik megalitikum, serta pemujaan roh-roh (animisme) serta benda-benda keramat (dinamisme). Pada abad pertama SM sudah terbentuk pemukiman-pemukiman serta kerajaan-kerajaan kecil, dan sangat mungkin sudah masuk pengaruh kepercayaan dari India akibat hubungan perniagaan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Cerpen pendidikan Moral

Mendahului  takdir
“Uhhuk.. uhukk… “ibu  Dina terus saja terbatuk – batuk sepanjang hari ini. Dan seperti biasanya dia meminum obat yang diresepkan dokter untuknya. “assalamualaikum…” ucap anak Ibu Dina, Tono sepulang dari bekerja. “ibu, bagaimana hari ini, adakah perkembangan?” kata Tono kepada ibunya. “tidak tahu nak, hari ini ibu tidak berhenti batuk, sebaiknya kita ganti dokter lagi saja” kata Ibu Dina lirih, “tidak bu, sebaiknya kita coba bertahan dengan dokter yang ini karena kita baru saja ganti dokter” kata Tono tegas. “mungkin saja umur ibu tidak lama lagi, nak” kata Ibu Dina sambil menangis. “Tidak bu, ibu tidak boleh menyerah, mungkin saja kita hanya tinggal menunggu  beberapa waktu lagi untuk pemulihan Ibu” Seru Tono kepada ibunya, “tapi…” belum sempat Ibunya berbicara, handphone milik Tono bordering “tunggu sebentar ya bu, ada telepon dari managerku” kata Tono sambil beranjak dari kamar Ibunya.
                “Assalamualaikum, halo pak, ada apa?” ucap Tono menjawab telepon managernya, “waalaikum salam No, ini ada kabar duka dari kantor, Pak Ardi siang tadi tutup usia karena sakit, jadi kami harapkan kepada seluruh karyawan untuk datang ke pemakaman dekat kediaman pak Ardi pada pukul 4.00 sore, kamu bisa datang kan?” jelas managernya “innalilahi, saya turut berduka cita pak, iya Insya Allah saya akan datang” jawab Tono “baiklah, saya tunggu ya No, kalau begitu sudah dulu ya, assalamualaikum” tutup managernya “waalaikum salam” jawab Tono.
                Tono pun masuk kembali ke dalam rumah dan langsung menghampiri ibunya di dalam kamar, “Siapa yang telepon No?” kata ibunya pada saat Tono masuk “itu bu, managerku telepon, katanya bos ku, pak Ardi siang tadi meninggal dunia dan aku diminta untuk hadir di pemakamannya” jelas Tono kepada ibunya, “innalillahi wainnalillahi roji’un, iya No kamu harus datang sebagai bentuk penghormatan terakhir nak “ kata Ibunya, “iya bu, Insya Allah aku akan datang”. Tono pun pamit kepada ibunya untuk menghadiri pemakaman pak Ardi.
                Pada saat di tempat pemakaman, “ kita semua berharap dan berdoa agar  amal ibadah pak Ardi diterima di sisi Allah SWT” kata managernya “Aamiin “ seru seluruh karyawan. Sebelum beranjak dari tempat pemakaman Tono sempat berbincang dengan si penjaga pemakaman “ pak, saya mau minta tolong, sekarang ibu saya sedang sakit keras, kalau misalnya tidak bias tertolong, saya ingin memakamkan ibu saya di sini “ kata Tono, “iii… iya tuan” kata penjaga kubur tersebut. Tono pun beranjak pergi dan menuju pulang.
                Beberapa hari kemudian Tono tidak pernah lagi datang ke kantor karena tiba – tiba sakit. Sedangkan ibunya sudah berhasil memulihkan kesehatannya sehingga sehat kembali. Namun sejak pertama sakit, hingga beberapa bulan, sakit Tono tidak kunjung menunjukkan adanya tanda – tanda untuk sembuh, hingga akhirnya ia pun tidak bias tertolong. Bukannya ibunya yang akan dia makamkan, tetapi dia lah yang terlebih dahulu dimakamkan oleh ibunya, semuanya karena ia mendahului takdir.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

P U I S I C I N T A

CINTA SESUNGGUHNYA
Kamu hadir membawa warna baru
Kamu obati luka ku tentang masa lalu
Kamu mampu mngubah kehidupanku
Jauh lebih baik dari kehidupan yang lalu
Kamu manusia sederhana yang mampu memberikan cinta yang luar biasa
Cinta yang tak mampu di ungkapkan oleh kata kata
Mendengar apa yg tidak dikatakan
Mengerti apa yang tidak di jelaskan
Terimakasih cinta....
Atas segala hal yang kamu berikan
Cinta tulus dan juga pengajaran tentang berbagai hal
Kamu telah mengajarkan apa itu menghargai, menerima, bersyukur, ikhlas dan mandiri
Kini ku mampu berdiri sendri dengan tenang melewati semua permasalahan pribadi
Dan kini aku telah mengerti apa itu hidup dan juga cinta sejati
Berharap setiap mimpi akan mnjdi nyata
Hidup bahagia bersama selamanya
Semoga rasa antara kita takkan pernah pudar bersama sang waktu
Sehingga Tiada celah bagi cinta yang lainnya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

PUISI IBU

DOA UNTUK IBU
Puisi Mutia Fitriyani

Aku tak tau apa yang harus kuLakukan tanpa dia
Dia yang seLaLu mengerti aku
Dia yang tak pernah Letih menasehatiku
Dia yang seLaLu menemani

DiaLah Ibu
Orang yang seLaLu menjagaku
Tanpa dia aku merasa hampa hidup di dunia ini
Tanpa.nya aku bukanlah apa-apa

Aku hanya seorang manusia Lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Kekuatan cinta kasih dari ibu
Kekuatan yang Lebih dari apapun

Engkau sangat berharga bagiku
WaLaupun engkau seLaLu memarahiku
Aku tau
Itu bentuk perhatian dari mu
Itu menandakan kau peduLi denganku

Ya Allah,,
BerikanLah kesehatan pada ibuku
PanjangkanLah umur.nya
Aku ingin membahagiakan.nya
SebeLum aku atau dia tiada

Terimakasih Ibu
Atas apa yang teLah kau berikan padaku
Aku akan seLaLu menyanyangimu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Post Icon

Sejarah TOSHIBA




Toshiba adalah perusahaan Jepang yang memproduksi dan memasarkan berbagai peralatan listrik dan produk elektronik yang canggih, yang berkantor pusat di Tokyo, Jepang. Toshiba dinilai sebagai perusahaan no 7 dunia untuk produsen terintegrasi untuk peralatan listrik, elektronik dan sebagai pembuat chip. Toshiba Semikonduktor termasuk 20 besar pemimpin penjualan semikonduktor di dunia.

Toshiba dibentuk pada tahun 1939, merupakan hasil merger dari dua perusahaan. Tokyo Denki adalah perusahaan yang bergerak dibidang consumer goods dan perusahaan mesin Shibaura Seisakusho. Mengambil beberapa huruf didepan dari masing-masing perusahaan “TO” dan “SHIBa” maka lahirlah merek Toshiba. Pada tahun 1984 perusahaan itu resmi berubah menjadi Toshiba Corporation. Grup ini makin kuat melalui pertumbuhan internal dan melalui akuisisi perusahaan rekayasa alat berat dan perusahaan industri primer pada 1940-an dan 1950-an. Kemudian pada 1970-an dan seterusnya, anak perusahaan mulai didirikan, yaitu: grup Toshiba Lighting & Teknologi (1989), Toshiba Carrier Corporation (1999), Toshiba Elevator & Building System Corp (2001), Toshiba Solutions Corp (2003), Toshiba Medical Systems Corp (2003) dan Toshiba Materials Co Ltd (2003).

Toshiba Corporation adalah salah satu perusahaan diversifikasi produsen dan pemasar produk digital, perangkat elektronik dan komponen, sistem infrastruktur sosial dan Home appliances. Sebagai pendiri dan inovator terkemuka dalam komputasi portabel dan produk-produk jaringan, Toshiba mulai memasarkan notebook, PC, dan PC server untuk rumah, kantor dan pengguna mobile. Toshiba Qosmio Notebook PC memimpin jalan dalam konvergensi komputasi dan kemampuan, menawarkan konsumen yang lengkap solusi hiburan pribadi. Sementara itu, seri “Tipis dan Ringan” membawa tingkat mobilitas tinggi dan daya tahan untuk notebook PC untuk penggunaan bisnis di era ini.

Toshiba memproduksi semua jenis laptop, dari model Libretto yang lucu dan ultra portabel sampai model multimedia Qosmio keren. Laptop Toshiba juga populer di Amerika dan Eropa. Apakah pengguna mencari pengganti desktop, laptop untuk mahasiswa atau laptop untuk game, akan ada sesuatu yang cocok bagi mereka di antara rangkaian yang tak terhitung jumlahnya seperti notebook Toshiba Libretto, Portege, Qosmio, Satellite dan Portege.

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiH1iDwXaBt5SR5HyvRZiA3zF7BZoKLJzrkWwvpMGikK9T5spR3N5hyY2pGF9-apUdYHzuN5VDO2tK1u5-gawQICoPhqSGFcs49i-fXqcqugt5qYRYSIVnEEUUgEcab2EHZ6LoesF9ui33I/s200/Toshiba+Satellite-Notebook+Toshiba+Satellite.jpgBerbagai Model Laptop Toshiba yang ada dipasaran :

    * Toshiba Satellite: Notebook Toshiba Satellite
Jika Anda menginginkan produk berkualitas, berteknologi tinggi, dengan harga yang terjangkau, desain yang stylish, dan kinerja yang solid Toshiba Satellite adalah jawabannya. Laptop ini dapat menjalankan aplikasi bisnis paling kompleks, menyimpan dokumen yang besar, mempunyai file media digital dan software produktivitas.

    * Toshiba Tecra: Laptop Toshiba Tecra
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj398CmBKL3mi3pt1l3A1UXoA4bcA-gKcDJVtl-CqXq5FIlThQR05fuW38bRsy7veYP4L6COjNRXPHPA3lcGn_AE4XgeuEE2TaDgCa0qi-OOV4YG2oTQWK3BSEtGcbN4Jhy861qD6BNuGkD/s200/Toshiba+Tecra-Laptop+Toshiba+Tecra.jpgLaptop ini memiliki keuntungan tambahan yaitu mobilitas dengan daya tahan yang dapat menggantikan komputer desktop high-end. Laptop Toshiba Tecra adalah notebook  untuk pebisnis profesional, handal, dengan daya tahan tinggi yang saat ini sudah menjadi tuntutan bisnia.

    * Toshiba Qosmio: Laptop Toshiba Qosmio
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwNKG1G8D_t88u7HDhrqAaY8Iy7FjwXGb6uuTiLbAlqoTZF6s42WjM6Ljtkt-GblKBJmUJ-F4foyXDoopDp_kdw3XQSKQLN8SE0zV66KQ5nY5KPbW1hJQx-Lp3Rxe2TvHonuB6Eg_dpXfs/s200/toshiba_qosmio_x305_q725-Toshiba+Qosmio-Laptop+Toshiba+Qosmio.jpg
Laptop ini mempunyai berat rata-rata sekitar 4,4kg.  Para gamer, programer yang membutuhkan teknologi tinggi, dan editor foto dan video yang memerlukan mobilitas dalam bekerja sangat memerlukan laptop ini.

       * Toshiba Portege: Laptop Toshiba Portege
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsygLg_q6F_EarRJYDkb0_c6Do-ZbJJvBgrURmtUe8msP69RSHvr4a3fY9S-Aa8czYfQSc9keq045UFenz-MVTrMci3UDo4UkWpop3msMOekDj0_IdIlzmc7cq4wYo0EBv_sxyLpfli0iS/s200/toshiba_portege_m400_notebook_1_s2-Toshiba+Portege-Laptop+Toshiba+Portege.jpgLaptop ini memiliki design ringan dan stylish. Laptop ini dapat menjadi  teman yang sempurna bagi mereka yang sering mobile untuk tujuan bisnis. Dengan tampilan menakjubkan untuk bekerja dan bermain,.cocok dimiliki Anda para gamer mania.

Laptop ini mempunyai kecepatan pemrosesan yang bagus, memiliki hard drive dengan kapasitas yang cukup untuk menyimpan dokumen, file media digital, dan software produktivitas. Selain itu, dia juga didukung grafis yang memukau, dan koneksi Internet dengan kecepatan tinggi dengan design yang menawan dan dapat dibanggakan pemakainya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS